PANDANGAN ISLAM DALAM MENYIKAPI BUDAYA DAN TRADISI PADA SUATU DAERAH

  TRADISI DALAM PANDANGAN ISLAM


Islam adalah agama universal, agama rahmatan lil alamain teralalu sempit jika Islam hanya digunakan Nusantara atau Islam Arab. Pelebelan itulah yang membuat makna Islam yang luas seakan menjadi milik negara atau golongan tertentu. Islam tidak kaku, Islam tidak anti budaya, tidak anti tradisi, namun islam mengatur bagaimana harusnya manusia menjalankan hidup secara dinamis, berbudaya tanpa harus bertentangan dengan tauhid, menjalankan tradisi tanpa melupakan hak Sang Pencipta, Maka selama adat, budaya dan tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat islam maka tidak ada masalah, namun jika tradisi itu bertentangan dengan ajaran islam maka kita wajib meninggalkannya.

Kebiasaan sederhana tradisi memakai sarung, mukena, baju batik, blangkon, peci, maka hal ini boleh-boleh saja, Namun jika tradisi menyediakan sesaji kepada gunung, pohon keramat, kuburan dan ritual melarungkan kepala kerbau kelaut, Maka wajib bagi seorang muslim mengingkari dan meninggalkannya, sebab tradisi seperti ini bertentangan dengan ajaran islam, dan dapat menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan syirik.

Syirik adalah merupakan perbuatan dosa paling besar, kezaliman yang paling zalim, jika pelakunya tidak bertaubat, dosanya tidak akan diampuni Allah, diharamkan masuk surga serta seluruh amal yang pernah dilakukannya selama di dunia akan hangus dan sia-sia.

Dan berikut ada sebuah kisah dari Hadits Nabi ﷺ yang patut kita jadikan renungan dan pelajaran, tentang dua orang orang yang masuk neraka karena lalat dan masuk surga juga karena lalat,

Thoriq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala.

Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.

Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.”

Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.”

Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.”

Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka.

Kemudian mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah."

Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.”

Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya karena tidak mau memberikan persembahan.

Dan Karena itulah, ia masuk surga.”

(HR. Ahmad di dalam az-Zuhd (15,16), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (1/203) dari Thariq bin Syihab dari Salman al-Farisi radhiyallahu’anhu secara mauquf dengan sanad shahih, dinukil dari al-Jadiid, hal. 109)

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Hadits ini menjelaskan tentang bahaya syirik meskipun hal kecil atau remeh.

2- Apabila sesaji dengan lalat saja bisa menyebabkan masuk neraka, Bagaimana dengan sesaji kerbau, ayam, uang, kembang, makanan ?

3- Hadits tersebut mengajarkan agar kita menjauhi perbuatan syirik,

4- Syirik menyebabkan pelakunya masuk neraka, sedangkan tauhid mengantarkan pada surga.

5- Seseorang bisa jadi terjerumus dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut syirik, maka pentingnya kita belajar ilmu agama dan aqidah yang lurus,

6- Hadits ini menjelaskan bahwa sembelihan, penyajian tumbal, sesaji untuk berhala adalah ibadah, sebagaimana sesaji untuk gunung, kuburan, pohon keramat, gua, lautan adalah kesyirikan,

7- Hadits ini menjelaskan keutamaan, keagungan dan besarnya balasan bagi orang yang mempertahankan tauhid.

8- Hadits ini menjelaskan tentang kerugian dan balasan orang yang berbuat syirik.

Semoga kisah di atas membuat kita semakin paham akan bahaya syirik, mawas diri dan pentingnya mentauhidkan Allah dalam ibadah.

Tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, tentu harus ditinggalkan apalagi jika sampai membuat Allah murka dan membuat kita terjerumus dalam neraka.

 

Wallahu a'lam

 

 


Belum ada Komentar untuk "PANDANGAN ISLAM DALAM MENYIKAPI BUDAYA DAN TRADISI PADA SUATU DAERAH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel